Orang-orang Dalam Kehampaan

Ck
Hendusan asap hitam keluar dari cerobong,kereta telah dipanaskan.Orang-orang masih berbaris rapi dikursi tunggu dekat gerbong.
Satu dua mata menanamkan kesedihan dan kehampaan,mungkin ada hal yang begitu berat yang akan di tinggalkan.
Kuingat dingin masih begitu menyelubungi,kereta berjalan dan aku duduk dipinggir dekat jendela.Sebagian ada yang dengan keluarga,tapi tak sedikit yang melakukan perjalanan sendiri.
Kereta bergerak dengan cepat menerabas daun-daun ilalang yang melambai.Suara lembayan lokomotif terompet mengalun dengan kesedihan.Terminal sudah semakin jauh ditinggalkan.Satu dua orang kulihat mengantukkan kepala pada kaca,tangannya mengelus lembut wajah kaca seperti berbisik hendak keluar.

Perjalanan dari kereta ini menempuh waktu selama dua jam setengah untuk sampai di terminal pertama.Dan aku akan turun di terminal utama,pemberhentian ketiga.
Yang berangkat dengan keluarga,mereka tertawa bersama.Harmonis kataku,ibu,ayah,dan anak kecil laki-lakinya.Bahagia betul mereka
Seorang bapak tua disampingku telah pulas tertidur. Dan lurus di samping kami disebrang kursi,seorang wanita muda duduk sendiri.Dia memegang sebuah buku dan pena,sembari memandangi luar jendela.
Serius betul." Ia gadis yang menarik rupanya" umpatku dalam hati.Setiap melewati tempat dan pemandangan indah dan sejuk,penannya selalu bergerak,selepas itu berhenti.Sepertinnya ia memberi jeda berfikir sejenak."Mungkin dia gadis yang sangat pintar,dewasa,dan tak mau merepotkan orang lain"Bisikku kecil.
"Sepertinya begitu" 
Aku kaget.Ternyata kakek yang disampingku telah terjaga.Mendengar suara kakek yang keras,gadis itu menoleh.
Aku langsung memalingkan pandangan seperti tak melihatnya.Kemudian dia kembali fokus pada dirinya sendiri.
"Kalau suka, minta saja nomor gawainya"

(Tersenyum pahit)

Aku tak menggubris usulan kakek tua.Gadis itu terlalu luar biasa fikirku,sehingga aku begitu takut untuk mengusiknya.
Dalam perjalanan aku kembali mengenang.
Sedih juga.

Ketika melewati sungai yang begitu lebar dan tenang,fikiranku menjadi pasrah,aku tetap menjadi tenang walau malaikat izrail sedang memandangi majahku. Lalu ketika sampai di Padang ilalang,aku merasa menjadi belalang.Belalang yang sedang terkurung didalam kereta,dan mau turun menikmati angin yang memburu sembari merentangkan tangan ditengah belaian daun-daun ilalang.
Tanpa sadar waktu telah berlalu dari dua jam.setengah jam lagi kami akan sampai di pemberhentian pertama.Kelakson kereta terus berbunyi-bunyi pada setiap tikungan.Banyak jembatar besar dan Tinggi yang menyambut kedatangan kami.

Mataku begitu berat,aku mengantuk.Aku tertidur dengan begitu pulas,dan tanpa sadar ketika aku terbangun,aku telah jauh meninggalkan terminal pertama.Bahkan ketika kereta berhenti dan orang-orang turun,aku tetap tertidur sampai kereta kembali melanjutkan perjalanan.
Dan aku baru menyadari,bahwa kakek yang disampingku tadi sudah turun di pemberhentian pertama.Lalu gadis itu..dia telah turun juga rupanya.Mengapa seperti ada rasa kecewa,padahal aku belum mengenalnya.Sungguh pertemuan yang begitu singkat.
Sekarang aku duduk sendiri.Aku menghidupkan lagu kenangan yang penuh dengan melodi kesedihan,sembari kusumpal telinga dengan headset.Seperti melupakan.Dan menepis semua kekecewaan dan berusaha kembali happy.
Dalam perjalanan kulihat ada sebuah pohon yang begitu besar dan rindang diatas bukit yang sekelilingnya dipenuhi oleh rumput Jepang.Dari bibir rel sudah dipasang pagar kayu,didalamnya ternak sapi dan kambing."Sejuk sekali"Bibirku bergumam tanpa sadar ketika melihat pemandangan yang begitu indah dan bersih.

Semua berlalu.Waktu telah berjalan menuju jam ke 4,dan hari sudah mulai senja,sebentar lagi kami akan sampai pada terminal pemberhentian kedua.
Sebelum sampai kami disambut dengan rumah-rumah kecil dan berantakan disepanjang bibir jalan.Satu-dua anak yang terlihat kumuh, masih bermain di tengah hari ketika magrib,dan azan berkumandang.
Aku menjadi lelah,seperti mendapat beban yang begitu berat.Hatiku begitu terpukul kala melihat kehidupan para warga disepanjang jalan menuju terminal.Sedih sekali,aku sangat berharap dapat membantu,sedikitnya bercerita dan mencari solusi,selebihnya untuk pendidikan para Adik-adik itu.Namun tidak.Aku hanya singgah sebentar disini,karena kereta hanya menyinggahkan penumpang,dan akan kembali melanjutkan perjalanan.
Aku termenung,ada yang masuk.Pengamen.Dua anak kecil,perempuan dan laki-laki.Baju mereka kebesaran dan mereka berjalan tanpa alas kaki,Badannya kotor dan kusam oleh debu-debu jalan.
Mereka bernyanyi dan memain kan kencrengan dari kaleng.Suara mereka seperti tertahan dan tersimpan."Mereka lelah" fikirku.
Satu lagu telah usai. kereta akan berjalan,mereka berjalan menghampiri satu dua penumpang bagian depan,sembari menyodorkan pelastik yang dilipas,sebagai wadah.Mereka meminta balasan atas apa yang telah mereka berikan.Namun orang-orang itu tak menggubris,bahkan tak menoleh.
Aku menjadi sedih.Sebentar lagi langkah kedua anak itu akan sampai di sampingku.Dan aku hanya punya uang dua puluh ribu,itupun untuk makan dijalan.Aku tak punya uang,uangku hanya pas untuk membeli tiket sesuai pemberhentian pada terminal ketiga.
Hatiku begitu berat.Jika tidakku beri,maka aku akan menjadi sakit selamanya.Masa ini akan mengingatkan aku selalu.Entah kapan-kapan juga aku dapat bertemu mereka kembali,melewati jalur ini pun entah kapan lagi.Namun jika ku beri maka aku akan kelaparan.
Tapi air masih ada setengah botol lagi."Berilah"batinku berkata peduli.
Kuserahkan hak itu untuk mereka.Lihat,senyumnya merekah.
(Aku tersenyum gentir menahan tangis yang ingin pecah dari korneaku)

selamat tinggal.



Komentar

Posting Komentar